PROLOK SINGKAT TENTANG INJIL MASUK DI TANAH
PAPUA KHUSUS DI WILAYAH GIDI
Pada tanggal 05 Februari 1855,
Tuhan telah mengutus ke dua Hamba-Nya yang berkembangsaan Jerman yaitu C. W.
Otto dan J. G Geissler yang mendarat di
pulau Mansinam Manokwari Papua barat dan saat itu disebut dengan Hindia
Belanda.
Dari tahun ke tahun, tabir
kegelapan di pesisir Pantai mulai terbuka, Injil kekuatan Allah makin menyebar.
Sementara itu Ribuan anak manusia yang bermukim di Lereng-lereng, bukit – bukit
dan lembah pedalaman Papua terus hidup dalam kegelapan, bahkan tidak terjangkau
pelayanan kasih satu pun.
Setelah 55th, kemudian
pemerintah Belanda telah membuka kesempatan untuk melakukan ekspedisi di
seluruh tanah Papua, sejak tahun 1910. Dan pada tahun 1911 sampai dengan 1928,
Pemerintah Belanda menetapkan Puncak Pegunungan sebagai batas Daerah Misi dan
Zending.
Ekspedisi ke Puncak pegunungan
mulai berlangsung, dan Penginjilan terus berjalan. Team Ekspedisi archbold,
Ekspedisi gabungan Amerika dan Belanda tiba di Pegunungan tengah dan memberikan
nama danau “Danau Anogonggwok”
menjadi Archbold. Tempat itulah mereka telah membuat base Camp, di dua Pos
yaitu Habema dan Papi’me Hitigima. Ekspedisi itu berlangusung dari tahun
1938-1939 dan mereka juga melakukan penginjilan di danau Wissel. Sedangkan di
tahun yang sama itu juga Russel Deibber dan Walter Post tiba di Enarotali pada
tahun 1939, dan membangun pos pekabaran Injil disana.
Sehingga dengan berjalannya waktu
pada tahun 1939 itu, Perang dunia ke II telah peca sehingga, para Misionaris
tersendak, dan ada yang ke Papua New Guinea PNG dan ada yang lain ke Australia.
Saat itu juga seorang Militer Amerika yang tergabung dalam “Sanggrila Opration”
melihat bahwa Masyakat Pegunungan Papua masih berada dalam dunia Primitif.
Pada tahun 1949 Bulan Juni
setelah perang dunia ke II berakhir, Robert Story Pimpinan Zending UFM
Australia dari New Zeland di undang Pemerintah Belanda Gubernur Vanderberg melalui Persekutuan Misi Belanda, “ The
UNITED Duch Mission” untuk memasuki di daerah – daerah yang belum di jangkau
oleh Injil.
Pada
bulan Oktober tahun 1950 Robert Story dan temannya Fred Dawson dari UFM dari
Australia datang dari Moresby sebagai utusan Injil pertama tiba di Yoka Sentani
yang dulunya dikenal dengan Holandia. Dan mereka tinggal di Pos 7 sambil
melakukan penginjilan di sekitar daerah tersebut. Setelah beberapa waktu
kemudian mereka pindah ke Senggi, dan disana mereka membentuk Jemaat Mula –
Mula dan Jumlah anggota Jemaat yang pertama ialah 150 orang pada tahun 1952,
dan mereka juga membangun lapangan terbang di Senggi sebagai Jalan untuk keluar
ke daerah Pegunungan tengah, namu Lapangan tersebut terjadi masalah sehingga
mereka kembali ke Sentani. Jadi pada tahun yang sama Misi UFM dari Ameri datang
bergabung dengan Misi dari Canada dalam misi yang sama.
Sejak
Tahun 1954 Misi C&MA telah mendarat di Lembah Balim Wamena, yang saat ini
terkenal dengan nama KINGMI, pada tanggal 20 April mendarat di sungai Balim
dengan mengggunakan Pesawat Amfibi, kemudian disusul Juga dengan Misi UFM
dengan Pesawat yang sejenis, dan mereka mendarat di sungai Balim, pada tanggal
22 Januari 1955 di Daerah Minimo Hitigima dekat Pos Pekabaran Injil CAMA yang
baru saja dibuka oleh tuan Myron Bromley setahun sebelumnya.
Untuk kelancaran
Misi Penginjilan di Pegunungan Tengah, para Misionaris membuat Base Camp ditepi
danau archobold selama 1 tahun, dan disitu membuat sebuah dermaga untuk Pesawat
Amfibi. Dan hamper setiap selalu Pesawat Amfibi mendorop Semua Logistik ke
sana, lalu pada saat itu Danau Archobold menjadi Pangkalan Misi di Wilayah
GIIJ, dan mereka tinggal disana selama satu dan melayani orang – orang Ilugwa
dan Kellela yang datang dengan berbagai sakit penyakit.
Pada Tahun 1953
Para pengutusan ke Bokondini sesuai dengan Peta dan Hasil Survei mereka yang
menjadi target utama dalam penginjilan di daerah Penginjilan Pedalaman Papua.
Dan selanjudnya Perjalanan Menuju Bokondi melalui Jalur darat lewat sungai
Megamblis dan sungai Mulik hingga tiba disana pada tanggal 1 Mei 1956, dengan
berdasarkan hasil rapat mereka saat itu Bokondini jadikan Puasat Injil, dan
itulah masuknya Injil di Wilayah Bogo.
Pada tahun 1956
para pengutusan menuju ke Karubaga memenuhi Janji mereka bahwa akan segera
kembali, dan beberap Misi diantaranya Mr. Bill Widdbin dan Paul Gesswin, mereka
ialah dari Misi RBMU dan ada beberapa teman lainnya telah tiba tanggal 24 Juni
1956, akhirnya dengan sebanyak 1000 orang penduduk Asli setempa bersepakat
untuk membuka lapangan terbang di Karubaga. Yang sekarang dijadikan
sebagai Ibu Kota Tolikara dan saat itu diresmikan oleh Pilot Dave Straiger. dan
Kedua misi yang masuk saat itu Dave Marthin
(Kondabaga) dan Mr. Bill Mallon, kemudian pada tahun yang sama para pengutusan
juga membuka lapangan terbang di Wollo oleh 3 orang dari UFM dan bersama 4
orang dari senggi yang mengikuti mereka saat itu.
Pada tahun 1958 Lapangan terbang
Ilu telah diresmikan. Dua bulan kemudian, yaitu dibulan oktober 1958 pesawat
Misi pertama telah mendarat, dan tahun 1959 UFM juga membuka lapangan terbang
di Ilu.
Setelah setahun kemudian,
Masyarakat setempat melakukan pembakaran Jimat – Jimat secara berturut – turut,
tahun1960. Pada tanggal 19 Februi 1960, pembakaran Jimat di Kelila, tgl 22
Februari 1960 pembakaran Jimat di Bokondi, tgl 1 Maret 1960 di Karubaga, hal
bertanda bahwa mereka telah menerima Injil Kristus dengan penuh suka cita.
Misi UFM Amerika membuka Lapangan
terbang di Ilu dan Kiwirok pada tahun 1960, sedangkan misi D. marthin dan J.
Dkker mereka meresmikan lapangan terbang di Kanggime pada tanggal 26 Juni 1960.
Pada tahun 1960 yang sama Misi
RBMU melakukan Survei di Yahukimo. Dan saat itu mereka membuka Pos di Mamit,
pada tgl 21 Mei 1961, RBMU masuk ke Lembah “Y” Heluk Ninia. Dan sekalian
membuka Lapangan terbang dan membuka lapangan terbang juga di timur Kiwirok dan
meresmikan Lapangan terbang Heluk Ninia oleh Misi UFM, dan Misi RBMU mengutus
misi Don’t dan Carol Richarsson untuk
melayani di suku Sawi di Kamur.
Pada tahun 1962 setiap Pengutusan Misi mulai
beroprasi di wilayah Yahukimo, yaitu Kiwirok, Nalca, Okbab, Pegunungan Bintang.
Dan Yang lain ialah di wilayah utara yaitu Mambramo, Serui, Maraikai, Nabire
yang disebut dengan Wilayah PANTURA, Oleh misi UFM.
Misi RBMU membagi dalam Jalur
yaitu karubaga, mamit, Kanggime yang saat ini disebut dengan Wilayah TOLI. Kemudian
dilanjudkan dengan Ninia, Holuwon, Lolat, Soba, Korpun, Selavaley, Sumo yang disebut dengan YAHUKIMO.
Selama berjalannya waktu saat itu
juga ada banyak orang –orang yang bertobat dan memberi diri Dibabtis melalui
Pekabaran Injil. Pembabtisan pertama dilakukan pada tanggal 29 Juni 1962 yaitu
8 tokoh GIDI pertama di Kelila. Dan Menyusul 30 orang pada Bulan Januari 1963
di Kanggime, dan 20 orang pada Bulan Maret 1963, di Karubaga 38 orang pada
Bulan Mei 1963 di Mulia 16 orang pada bulan Juni 1963 di Ilu 12 orang dan di
Mamit pada tahun yang sama.
Hasil pekabaran injil tiga badan
Misi yang beroprasi dipegunungan tengah pada Konfrenci I di Karubaga yang
dihadiri 11 Daerah dengan Peserta 73 orang dari 51 GIIB Musyawara, telah
melahirkan sebuah gereja pada tanggal 12 februari 1963 dengan nama, “Gereja
Injili Irian Barat” yang disingkat dengan nama (GIIB) untuk melakukan Wilayah
pegunungan tengah yaitu Wilayah Bogo, Toli dan Yamo.
Perjalanan Pekabaran Injil bukan
hanya memberitakan kabar baik saja, namun mereka juga membuka Lapangan terbang
dan Rumah – rumah Sakit dan membuka Sekola alkitab.
Untuk terbit dan kelancaran
manajemen pelayanan maka konsolidasi organisasi dan manajemen terus dilakukan
untuk membentuk anggaran dasar dan anggaran Rumah tangga serta menetapkan badan
pengurus harian.
Pada konfrenci Lani tanggal 12
Februari 1963 di Karubaga, Pdt. Gun Wanena dengan pendidikan Buta huruf,
terpilih sebagai Koordinator GIIB. Kemudian tahun 1964 terpilih Pdt. Ondowa
Elabi, yang juga pendidikannya buta huruf kemudian disekolahkan di Muliah
sekolah alkitab.
Pada tahun 1965 – 1969, GIIB
dibawa Pimpinan Pd. Keboba Wanimbo sebagai Pimpinan Sinode dalam bentuk
Koordinator. Dan pada tahun 1969 – 1974 Pdt. Lematin Baminggen menjabat sebagai
Ketua Sinode, dengan di dukung oleh Pdt. Justin Parman, dan Pdt. Yakob
Baminggen, Pdt. Lematin Baminggen mengurus legalitas organisasi sampai sampa ke
Jakarta dengan kantor yang berpusat di Bokondini.
Daftar nama-nama Ketua Sinode
Pertama:
1 Pdt. Berth Koirewoa 1965-1969
2. Pdt.
Yakob Baminggen 1984
Dibantu
Oleh: Pdt. Justin Parmanan, dan mereka
berhasil menyelesaikan akte Notaris di Jakarta di departemen Kementrian Agama
Rebuplik Indonesia dengan Nomor: E/KET/385/1745/76 dengan nomor urut: X/5/76;
terdaftar ulang tanggal 15-16 Januari 1989 setelah berth koirewoa setelah
menyelesaikan Pendidikannya, ia kembali dijabata sebagai ketua sinode.
3. Pdt.
Immanuel Kenongga S.Th
4. Pdt.
Fredy Ayomi B. Th 1993 melalui Konfrenci GIDI di Wolo; 1993 – 1998.
5. Pdt.
Mistian Towelom, S. Th di pilih sebagai ketua Sinode GIDI melalui Sidang
Konfrenci tahun 1998 – 2003.
6. Pdt.
Lipyus Biniluk M. Th di pilih sebagai ketua Sinode melalui Konfrenci tahun 2003-2014;
beliau dijabat selama dua Priode.
7. Pdt.
Dorman Wandikbo S. Th di Pilih sebagai presiden GIDI tahun 2014-2020 saat ini.
Penjangkauan
pelayanan tidak berhenti, terus menerus berkembang secara bertahap, baik Lokal,
Reginald an Global. Gereja GIDI menjadi Perhatian Dunia sebagai Gereja Lokal
yang berpontenci Misioner sehingga dengan kehendak Tuhan, Tahun 2019 telah
menjadi anggota sah di Dewan Ham Pasifig sebagai gereja Pribumi.
Dibawa Coretan
tema: “ Penginjilan Belum Selesai.” Artinya Penginjilan menjadi titik sentral
untuk terus menerus dibritakan ke seluruh dunia.
Prioritas kita
saat ini ialah pelayanan, untuk menjangkau Dunia, melalui berbagai cara,
terutama dengan mengajar tentang Yesus Kristus. Seperti ada tertulis dalam
Kitab Kisa Para Rasul 1:8; Matius 28:19-20, sebagai Landasan Kita untuk
memberitakan amanat agung. “ Penginjilan belum Selesai.”
57th
hari ini ialah momen terbaik untuk menjadi evaluasi bagi kita generasi Masa
depan gereja yang handal dan berpusat pada Kristus dan Kebenaran yang sejati. Gereja yang misioner adalah gereja yang berpusat pada perintah Amanat Agung, yang meneladani Tuhan Yesus dalam perintah-Nya. Kisa Para Rasul 1:8; Matius 28:19-20, adalah landasan utama untuk menjadi rohnya gereja, dalam menjangkau misi Tuhan Yesus. Amanat ini kiranya menjadi tanggung jawab kita bersama, supaya tema gereja GIDI "Penginjilan Belum Selesai" akan di wujudkan oleh Para generasi Generasi-generasi mudah yang dengan bertekun melalembuana dalam dunia penginjilan supaya di wujudkannya melalui campur tangan TUHAN Yesus sebagai kepala Gereja itu sendiri.
Penulis : Oka Otniel Silak S. Th
Selamat Merayakan
Hut Pekabaran Injil Masuk Di Gereja Injili Di Indonesia GIDI, Tahun 2020, Tuhan Yesus memberkati.
Malang 26 Februari 2020
Foto: Saat Makan Bersama mahasiswa/i Se Papua dan Papua
Barat di Kota Malang, jawa Timur 2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar