|
|
GEREJA INJILI
DI INDONESIA GIDI, WILAYAH
JASUMBAS SIAPA YESUS ?
Yesus mati. Dia bangkit dari kematian. Dunia pun berubah selamanya. Namun, mengapa Yesus mati, dan apa makna kebangkitan-Nya? Apa yang berubah dari dunia ini? Bagimana kematian dan kebangkitan-Nya mempengaruhi hidup kita saat ini?
Kematiaan seseorang baru memiliki arti penting bagi kita apa bila pribadi tersebut adalah seorang yang kita kenal atau tahu. Arti penting kematian Abraham Lincoln baru terasa ketika kita memahami siapa Lincoln, dan hal yang sama juga berlaku untuk Bunda Teresa serta tokoh –tokoh bersejarah lainnya. Tidak hanya kehidupan mereka yang mengubah dunia, tetapi juga kematian mereka.
Jika dilihat semata – mata dari sudut pandang sejarah umat manusia, tidak ada tokoh yang hidupnya begitu mengubah dunia seperti Yesus. Biografi tentang Dia lebih banya ditulis dari pada biografi tokoh-tokoh lain (Lincoln di peringkat ke dua). Bahkan, empat biografia pertama tentang Yesus (Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes dalam perjanjian baru) merupakan salah satu alasan penting mengapa Alkitab menjadi buku terlaris sepanjang masa.
Tidak ada pengajaran yang memberi dampak lebih besar dari budaya, politik, moralitas, keadilan, filsafat, dan karakter manusia dari pada pengajaran Yesus Kristus. Pengajaran moral-Nya – seperti aturan emas, (Matius 7:12) dan pentingnya belas kasihan serta pengampunan – menjadi pedoman bagi milyaran orang di dunia. Yesus bahkan masih menetapkan standar yang tidak sanggup di capai oleh manusia modern masa kini, seperti: bagimana kita bisa mengasihi musuh kita? Apakah kita harus berdoa bagi pihak – pihak yang menganiaya kita? (Sumber: Our Daily Bread Ministries)
Selain itu, bagimana kita dapat memahami perkataan Yesus tentang diri-Nya sendiri? Dia datang untuk menyingkapkan sosok Allah bagi kita. Dialah Allah Anak yang telah ada sejak permulaan zaman. Oleh Dialah, Allah Bapa menciptakan dan merancang seluruh alam semesta, termasuk umat manusia. Demi merekalah Yesus snediri kemudian mengambil rupah sebagai manusia. Jika kita mempercayai semua pernyataan tersebut, maka tidak pelak lagi, Yesus Kristus adalah pribadi yang paling berarti yang perna ada di muka bumi ini.
Ketika menyadiri bahwa pribadi yang oleh-Nya manusia di citakan itu mati sebagai manusia, kita pun mulai melihat keagungan peristiwa tersebut. Bahkan, ketika kita memahami siapa Yesus, kita tidak akan terkejut mengetahui Dia akan bangkit dari kematian. Namun, luar biasanya, Dia benar – benar mati bagi kita yang berdosa ini! Bagimana mungkin sang pencipta di bunuh oleh ciptaan-Nya sendiri?
Kasihlah jawabannya. Pemberian dalam rupa Anak Allah yang kekal merupakan puncak pernyataan Kasih-Nya. Yesus memilih untuk mengambil rupa manusia dan menyerahkan nyawaNya supaya kita yang berdosa, memberontak, dan angkuh, dapat diperdamaikan dalam hubungan Kasih dengan Bapa kita di sorga – Sang pencipta dan Hakim kita. Yesus datang untuk mati supaya kita beroleh hidup. Kematian-Nya member kita hidup karena Dia Allah. dia datang kepada kita. Dan menjadi sama seperti kita supaya dapat membawa kita pulang bersama-Nya.
Yesus Datang Untuk Mati Supaya Kita Beroleh Hidup. Kematian-Nya Memberi
Kita Hidup Karena Dia Allah.
Jika kematian Kristus hanya dapat dihargai dengan memahami siapa diri-Nya, demikian pula dengan kebangkita-Nya dari kematian. Lazarus dibangkitkan dari kematiannya (oleh Yesus), tetapi kebangkitannya tidak mengubah nasib umat manusia. Namun. Ketika Yesus dibangkitkan, Dia menahklukan musuh terbesar manusia – yaitu kematian itu sendiri. Dia bangkit maklukan kematian dan maut tidak lagi berkuasa atas Dia.
Yesus berjanji, suatu hari nanti Dia akan memanggil keluar dari kubur dan kita akan benar – benar hidup kembali. Tubuh kita akan dibangkitkan seperti tubuh-Nya. Maut tidak akan lagi mempunyai kuasa atas kita. Maut akan mati. Pribadi terbesar mengalami kematian terkeji supaya pada akhirnya kita akan menikmati kekekalan hidup bersama-Nya. Pada paskah kali ini, carilah Yesus, yang terlebih dahulu datang untuk mencari kita.
Ilmu berkhotbah, sering disebut Homiletika, adalah sebuah pelajaran yang memadukan antara seni dan metode untuk menyampaikan firman Allah secara baik dan benar. Homiletika dari dua kata Yunani homilia (pidato, khotbah) dan tekne (teknik, keterampilan). Berkhotbah adalah suatu karunia rohani dari Roh Kudus. Namun, bisa dipelajari dan bisa dilatih.
Bentuk Khotbah Ekspositori
Khotbah Ekspositori adalah bentuk khotbah yang mengupas nas Alkitab berdasarkan konteksnya. Yang dimaksud konteks adalah nas sebelum atau sesudah dari nas yang akan dikhotbahkan, atau latar belakang dari nas sampai kitab tersebut. Berikut tujuh langkah dalam menyusun khotbah ekspositori:
Langkah I: Memilih Nas Khotbah
Sebelum persiapan membuat khotbah, yang sangat penting adalah menentukan nas Alkitab yang akan dikhotbahkan. Memilih dan menentukan nas yang tepat akan menjadi "menu" makanan rohani yang mudah dimasak dan lezat untuk dihidangkan.
Cara memilih nas Alkitab:
Dengan berdoa memohon pimpinan Roh Kudus.
Hubungan pengkhotbah dengan Tuhan akan menemukan kepekaan kehendak-Nya.
Dengan menyelidiki nas yang sudah memberkati.
Hubungan pengkhotbah dengan pengalaman akan menghidupkan pemberitaannya.
Dengan menyesuaikan kebutuhan pendengar.
Hubungan pengkhotbah dengan sesama akan menjadikan khotbah mem-"bumi".
Dengan mencari sesuai tema yang diminta.
Hubungan pengkhotbah dengan perkembangan zaman khotbahnya akan akurat.
Dengan mempertimbangkan kemampuan pengkhotbah.
Hubungan pengkhotbah dengan proses pembelajaran akan menjadi khotbah yang relevan.
Dengan satu kesatuan nas yang logis dan praktis.
Khotbah adalah mengomunikasikan hubungan pengkhotbah dengan Alkitabiah
Perhatikan nas dalam konteks dekat dan konteks jauh.
Perhatikan latar belakang sejarah kitab.
Gunakan metode penafsiran induktif bukan deduktif.
Hal yang perlu diwaspadai dalam memilih nas:
Jangan memilih hanya nas-nas yang sudah terkenal.
Jangan hanya biasa dengan kitab Perjanjian Baru atau Injil-injil, pelajarilah Perjanjian Lama.
Jangan memilih karena ada "pesan sponsor" atau karena motif khus
Jangan memilih karena nas yang hanya menjadi kesukaan pribadi.
Jangan menentukan nas hanya karena pengalaman pribadi.
Contoh memilih nas khotbah
Nas Alasan memilih nas tersebut
Lukas 5:1-11 Karena nas ini sudah memberkati secara pribadi.
Yohanes 2:1-11 Karena sesuai kebutuhan pendengar.
Mazmur 90 Karena sesuai tema untuk khotbah akhir tahun.
Mazmur 133 Karena terpanggil untuk menyampaikan.
Nehemia 1 Karena tertark dengan biografi tokoh doa.
Latihan memilih nas khotbah
Pilihlah lima nas yang memiliki satu kesatuan logis (satu kesatuan pikiran) dan praktis (bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari). Berilah alasan mengapa nas tersebut dipilih.
Langkah II: Membuat Tema Khotbah
Setelah memilih nas, bacalah nas berulang-ulang kali, kemudian ringkaslah nas tersebut menjadi satu kalimat. Kalimat hasil ringkasan nas ini disebut tema khotbah. Satu nas bisa muncul menjadi beberapa tema, tetapi pilihlah salah satu tema yang sangat dominan, di mana tema tersebut adalah hasil dari ringkasan nas, dan tema tersebut akan menjelaskan nas.
Contoh membuat tema khotbah
Nas Kemungkinan tema khotbah yang bisa dipilih
Lukas 5:1-11 Mukjizat Itu Nyata
Berkat yang Melimpah-melimpah
Menjadi Orang yang Istimewa di Hadapan Tuhan
Yohanes 2:1-11 Menghadirkan Yesus dalam Keluarga
Keluarga yang Diberkati
Tuhan Memberi yang Terbaik
Mazmur 90 Memanfaatkan Waktu dengan Bijaksana
Mazmur 133 Rukun itu Indah
Nehemia 1 Doa yang Mengubah Keadaan
Latihan membuat tema khotbah
Pilihlah tiga nas Alkitab, masing-masing nas buatlah tiga tema khotbah. Kemudian pilihlah satu tema saja, dan berilah alasan mengapa tema tersebut dipilih.
Langkah III: Membuat Kalimat Peralihan
Kalimat peralihan adalah sebuah kalimat yang akan menjembatani atau menjabarkan tema khotbah ke dalam nas Alkitab. Dalam kalimat peralihan terdiri dari: tema khotbah + kata bantu + kata kunci + kata tanya.
Memakai kalimat peralihan harus mempersiapkan jawabannya dari kata kunci tersebut di dalam nas. Jika kata kunci syarat-syarat, pastikanlah Ialam nas berisi syarat-syarat. Jika kata kunci langkah-langkah, pastikanlah bahwa dalam nas ada langkah-langkah. Kemudian pakailah kata tanya. Dan, pastikanlah jawabannya ada di dalam nas.
Contoh membuat kalimat peralihan (1)
P1.jpg
Contoh membuat kalimat peralihan (2)
P2.jpg
DAFTAR KATA KUNCI
Alasan-alasan Kebenaran-kebenaran Peraturan-peraturan
Bukti-bukti Keputusan-keputusan Prioritas-prioritas
Bahaya-bahaya Keuntungan-keuntungan Pelajaran-pelajaran
Berkat-berkat Kekurangan-kekurangan Peringatan-peringatan
Cara-cara Kesan-kesan Perintah-perintah
Ciri-ciri Kebutuhan-kebutuhan Syarat-syarat
Dosa-dosa Kesalahan-kesalahan Sikap-sikap
Faedah-faedah Langkah-langkah Tugas-tugas
Faktor-faktor Masalah-masalah Teguran-teguran
Janji-janji Nasihat-nasihat Unsur-unsur
Daftar kata kunci bisa ditambahkan sesuai kebutuhan
Dalam membuat kata tanya, pastikanlah Anda sudah memikirkan jawabannya di dalam nas yang akan dikhotbahkan. Ada enam kata tanya. Dan, dalam satu khotbah hanya menggunakan satu kata tanya. Contoh penggunaan kata tanya, dan kaitannya dengan kata kunci.
Kata tanya Jawaban
Apakah langkah-langkahnya? Langkah-langkahnya: 1,2,3, dst.
Bagaimana cara menerapkan prinsip-prinsip? Prinsip-prinsipnya: 1,2,3, dst.
Mengapa rukun itu indah? Karena berkat-berkat: 1,2,3, dst.
Siapakah yang bijaksana? Yang memiliki nilai-nilai: 1,2,3, dst.
Di mana Gembala menjaga domba-Nya? Tempat-tempat: 1,2,3, dst.
Kapan Tuhan mengatur kita? Dalam waktu-waktu: 1,2,3, dst.
Latihan membuat kalimat peralihan
Pilihlah tiga nas, misalnya dari Lukas 5:1-11, Yohanes 2:1-11, dan Mazmur 90. Buatlah tema khotbah, dengan kalimat peralihan. Dan juga persiapkan kata tanyanya.
Langkah IV: Membuat Pokok Besar
Pokok besar adalah ide-ide dari bagian-bagian nas yang akan dibuat dalam bentuk ringkasan yang disesuaikan dengan tema khotbah dan kata kunci (jamak). Pokok besar ini juga menjadi jawaban dari kata tanya dalam langkah 3.
Pokok besar yang baik akan memperhatikan unsur-unsur:
Satu kata atau kalimat yang sejajar sesuai kata kunci. Jika kata kuncinya perintah, pokok besarnya berisi perintah-perintah. Jika kata kuncinya langkah, pokok besarnya berisi langkah-langkah.
Satu kata atau kalimat yang mudah dimengerti dan relevan.
Pilihlah yang unik (contoh: kesamaan huruf, bunyi), mudah diingat, relevan.
Kreatif dan bersumber dari bagian-bagian nas.
Setiap pokok besar harus dicantumkan asal ide, atau kutipan ayat dari nas.
Ingat! Kata kunci harus jamak, harus diulang-ulang saat transisi dari pokok besar satu ke pokok besar lainnya.
Contoh membuat pokok-pokok besar (1)
Nas Alkitab : Nehemia 1
Tema khotbah : Doa yang Mengubah Keadaan
Kalimat peralihan : Doa yang mengubah keadaan dengan mengikuti langkah-langkah dalam Nehemia 1:1-11. Apa langkah-langkahnya?
Doa dengan terbeban
"Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit" (Nehemia 1:4).
Doa dengan merendahkan diri
"Duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa" (Nehemia 1:4). Juga, "Dengan mengaku segala dosa yang kami orang Israel telah lakukan" (Nehemia 1:6).
Doa dengan berusaha
"'Ya, Tuhan, berilah telinga kepada doa hamba-Mu ini dan kepada doa hamba-hamba-Mu yang rela takut akan nama-Mu, dan biarlah hamba-Mu berhasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari orang ini.' Ketika itu aku ini juru minuman raja" (Nehemia 1:11)
Contoh membuat pokok-pokok besar (2)
Nas Alkitab : Yohanes 2:1-11
Tema khotbah : Keluarga yang Diberkati Tuhan
Kalimat peralihan : Keluarga yang diberkati dengan mengikuti langkah-langkah dalam Yohanes 2:1-11. Apa langkah-langkahnya?
Mengundang Yesus
"Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu" (Yohanes 2:2).
Menaati firman Tuhan
"Apa yang dikatakan kepadamu, lakukanlah [taatilah] itu" (Yohanes 2:5).
Memanfaatkan potensi
"Di situ ada enam tempayan ..." (Yohanes 2:6).
Melangkah dengan iman
"Kata Yesus kepada mereka, 'Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pernimpin pesta.' Lalu mereka pun membawanya"
(Yohanes 2:8).
Latihan membuat pokok besar
Pilihlah dua nas, misalnya Lukas 5:1-11 dan Yohanes 2:1-11. Buatlah pokok-pokok besar. Buatlah mulai dari langkah pertama sampai langkah keempat (tema, kalimat peralihan, pokok besar).
Langkah V: Membuat Pokok Kecil
Maksud membuat pokok-pokok kecil adalah menjelaskan pokok-pokok besar dengan dukungan nas dan uraian-uraian sesuai tema khotbah.
Pokok kecil biasanya terdiri empat bagian:
Menjelaskan
Pokok kecil menjelaskan pokok besar dengan ide-ide nas yang didapat dari "kata", "frasa", atau "ayat". Jika ada kata yang memerlukan arti atau definisi, harus dijelaskan menurut kamus atau Ensiklopedia.
Menguraikan
Pokok kecil menguraikan pokok besar dengan dukungan ayat terdekat, konteks terdekat. Bisa dipakai Buku Tafsiran Alkitab.
Menggambarkan (ilustrasi)
Pokok kecil menggambarkan pokok besar dalam bentuk nyata, riil. Dalam hal ini bisa dipakai ilustrasi (cara membuat ilustrasi akan dijelaskan lebih lanjut).
Menerapkan
Dalam pokok kecil harus diberi contoh penerapan yang bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan hares bersifat spesifik, praktis, riil, relevan.
Cara membuat ilustrasi khotbah
Sumber ilustrasi: Kisah dari tokoh Alkitab, majalah, koran, tayangan televisi, alam sekitar, benda-benda sekitar, biografi tokoh, kata-kata bijak, pengalaman riribadi, pengamatan, data-data statistik, dramatisasi, riwayat lagu, karya sastra, karya seni, dan lain-lain (ilustrasi khotbah sebaiknya bersifat ilmiah dengan mencantumkan data atau sumbernya).
Cara mengoleksi ilustrasi: Membuat kliping dari potongan koran, majalah; Mengumpulkan berdasarkan: abjad atau tema; Membuat filling card (memotong dalam ukuran amplop dibuat seperti menyusun katalog); Mengumpulkan benda, alat peraga: tali, lilin, roti, dan lain-lain.
Pedoman penggunaan ilustrasi:
Ilustrasi untuk menjelaskan kebenaran pokok besar atau tema, bukan sebaliknya.
Ilustrasi untuk sarana menjelaskan pokok atau tema khotbah, bukan tujuan khotbah.
Ilustrasi sebaiknya bersifat riil atau ilmiah, bukan dongeng, atau fiksi.
Jangan sering menggunakan ilustrasi dari pengalaman pribadi. cerita keluarga, untuk menghindari "motif negatif dan ekses pendengar".
Ilustrasi bersifat membangun, bukan pelecehan, diskriminasi, kesombongan pribadi.
Satu ilustrasi sebaiknya dipakai untuk menjelaskan hanya satu kebenaran.
Waspadalah! Jangan menggunakan ilustrasi yang menarik perhatian, lucu, konyol, sensasional, menyita waktu, yang pada akhirnya akan merusak alur logika atau struktur khotbah. Dan, tidak membantu menjelaskan nas.
Contoh membuat pokok kecil
Nas Alkitab : Nehemia 1:1-11
Tema khotbah : Doa yang Mengubah Keadaan
Kalimat peralihan : Doa yang mengubah keadaan dengan mengikuti langkah-langkah dalam Nehemia 1:1-11. Apa langkah-langkahnya?
Doa dengan terbeban
"Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit" (Nehemia 1:4).
Menjelaskan
Nehemia orang buangan yang terhormat menjadi juru minuman raja (1:11, 2:1). Ia mendengar dari Hanani (seorang dari Yehuda yang terluput dari penawanan), bahwa kondisi Yerusalem sangat menyedihkan. Orang-orang menderita, temboknya terbongkar, pintu-pintunya terbakar (1:3). Mendengar ini Nehemia "menangis ... berkabung..." (1:4). Nehemia sangat "terbeban" atas penderitaan bangsanya, keruntuhan kota, bahkan rusaknya kota Yerusalem.
Menguraikan
Sebagai orang sukses, Nehemia bisa berpikir egois. Tetapi, Nehemia adalah orang yang peduli terhadap penderitaan umat Allah. Ia memikirkan masalah bangsanya sangat serius, sangat terbeban, sehingga kesedihannya terbaca dalam sikap dan raut mukanya oleh Raja Artahsasta (2:2). Nehemia terpanggil membangun Yerusalem, karena terbeban, karena terpanggil. Tanpa pamrih.
Nehemia mengungkapkan sikap terbeban dengan doa. Dan, pada saat ditanya oleh sang raja, apa keinginannya, Nehemia tidak langsung menjawab atau meminta kepada raja, tetapi kembali berdoa. "Lalu kata raja kepadaku: 'Jadi, apa yang kauinginkan?' Maka aku berdoa kepada Allah semesta langit" (Nehemia 2:4).
Menggambarkan atau ilustrasi
(Tidak perlu ilustrasi, karena kisah Nehemia yang terbeban sudah jelas.)
Menerapkan
Doa akan mengubah keadaan, jika kita memiliki sikap hati yang terbeban secara pribadi. Tanpa rasa terbeban, tdak akan ada doa yang serius.
Doa dengan merendahkan diri
Memukul dada, menyiram abu di atas kepala, berjalan dengan kaki telanjang, menarik dan menggunting rambut, menyakiti dada (Kejadian 37:29-34; 2 Samuel 13:19; Imamat 10:6.). Inilah cara merendahkan diri dengan berkabung.
Menguraikan
Doa permohonan Nehemia sungguh-sungguh digumuli dengan merendahkan diri di hadapan Tuhan. Ia berdoa "siang dan malam" (1:6). Nehemia tidak hanya berdoa secara pribadi. tetapi melibatkan orang-orang lain juga (1:11). Nehemia sebenarnya layak sombong, karena di negeri orang lain, ia bisa berprestasi. Namun, semua prestasi dan kejayaannya harus ditanggalkan tatkala ia berhadapan dengan Allah. Nehemia merendahkan diri. Dalam doanya, ia memohon pengampunan atas dosa-dosa, baik dosa secara pribadi maupun dosa bangsanya (1:6).
Menggambarkan atau ilustrasi
(Tidak perlu ilustrasi, karena kisah Nehemia dalam merendahkan diri sudah jelas.)
Menerapkan
Jauhkan kesombongan, tidak ada faedahnya menyalahkan siapa pun, tidak baik menyesali kegagalan dan masalah di sekitar kita. Marilah saatnya kita berdoa dengan merendahkan diri di hadapan Tuhan.
Doa dengan berusaha
"'Ya, Tuhan, berilah telinga kepada doa hamba-Mu ini dan kepada doa hamba-hamba-Mu yang rela takut akan nama-Mu, dan biarlah hamba-Mu berhasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari orang ini.' Ketika itu aku ini juru minuman raja" (Nehemia 1:11).
Menjelaskan
Nehemia mengharapkan satu hal: berhasil. Untuk berhasil, diperlukan doa dan usaha. Dalam rangka berusaha, Nehemia menggunakan potensi dan strategi yang didukung doa.
Menguraikan
Berusaha memanfaatkan potensi:
"Ketika itu aku ini juru minuman raja" (Nehemia 1:11). Kedudukan, jabatan adalah sebuah potensi yang bisa digunakan untuk akses hubungan yang lebih luas.
Berusaha menggunakan strategi:
Setelah raja memberi kesempatan kepada Nehemia, ia memakai strategi memohon surat rekomendasi atau surat jalan agar bupati-bupati yang wilayahnya akan dilewati memperlancar tujuannya (2:7,8).
Berusaha dengan kerja keras:
Nehemia menghadapi banyak tantangan. Dari Sanbalat yang menolak Yerusalem dibangun kembali (2:10,19; 6:1-19). Nehemia mengandalkan doa (4:9). Dan, siap berperang (4:1-23). Inilah berdoa dengan berusaha. Akhirnya, pekerjaan selesai (6:15), dan seluruh cita-cita berhasil (7:1).
Menggambarkan atau ilustrasi
Hand2.jpg
Lukisan "tangan berdoa". Perhatikanlah lukisan kedua tangan tersebut bukan tangan yang lembut, melainkan tangan kasar yang berotot besar. Sebuah tangan yang berdoa, tetapi juga sebuah tangan yang bekerja keras. Latar belakang historis lukisan tersebut dimulai dari keinginan Albrecht untuk sekolah seni rupa. Namun, karena Albrecht miskin, maka ia mencari kawan untuk bekerja sama. Akhirnya, disepakati Albrecht sekolah dulu, sedangkan kawannya yang bekerja untuk membiayai. Kawan Albrecht adalah seorang yang rajin berdoa dan bekerja keras sebagai buruh kasar. Beberapa tahun kemudian Albrecht lulus, ia ingin kawannya bergantian sekolah. Saat ia mengunjungi rumah kawannya, kawannya sedang berdoa, dengan tangan kasar yang berotot besar, "Oh Tuhan, tanganku sudah menjadi kaku dan kasar. Sudah tidak bisa untuk melukis lagi. Biarlah Albrecht saja yang menjadi pelukis." Seorang yang rela berdoa dan bekerja keras bukan bagi dirinya sendiri, melainkan bagi orang lain ini telah mengubah hidup Albrecht dan diabadikan dalam lukisan tangan berdoa karya Albrecht Durer (1471-1528), yang mengilhami motto ora et labora.
Thomas Alva Edison (1847-1931), seorang pekerja keras, penemu terbesar dalam sejarah dunia dengan tiga ribu penemuannya. Pada usia enam tahun, ia bereksperimen mengerami telur ayam. Usia tujuh tahun, ia dikeluarkan dari sekolah karena dianggap terlalu bodoh, maka Nancy Elliot, sang ibu, mengajarkannya membaca. Setelah bisa membaca, ia membaca buku-buku ilmiah, buku sejarah, ensiklopedia. Dan, setiap kali membaca, ia juga mencoba bereksperimen. Saat remaja pendengarannya rusak karena ditampar kondektur. Ia mulai belajar telegraf, dan akhirnya memproduksi alat sendiri, serta menekuni eksperimen listrik. Dan, menemukan: stasiun tenaga listrik, lampu listrik, sistem pendistribusian listrik, dan lain-lain. Energi listrik yang membuat terang, yang menjadi daya bagi seluruh komponen elektronik. Yang kita nikmati sekarang adalah hasil penemuan keda kerasnya.
Menerapkan
Untuk mengubah keadaan diperlukan doa dan usaha. Tuhan adalah sumber mukjizat, tetapi tidak berarti kita pasif. Kita harus berusaha sesuai dengan panggilan kita: usaha bekerja lebih keras, melayani lebih baik, mengampuni dengan tulus, mengasihi tanpa pamrih, dan lain sebagainya. Suatu tindakan keliru, bahkan mencobai Tuhan jika kita hanya berdoa tanpa mau berusaha.
Latihan membuat pokok kecil
Pilihlah dua nas, misalnya Lukas 5:1-11 dan Yohanes 2:1-11. Buatlah pokok-pokok kecil. Buatlah mulai dari langkah pertama sampai langkah kelima (tema, kalimat peralihan, pokok besar, pokok kecil).
Langkah VI: Membuat Kesimpulan atau Penutup Khotbah
Kesimpulan atau penutup khotbah adalah rangkuman dari seluruh khotbah yang telah disampaikan. Isi kesimpulan meliputi: tema, kata kunci, dan pokok-pokok besar.
Saran dalam memberi kesimpulan
Kesimpulan bisa diisi dengan kutipan ayat emas, ilustrasi singkat, tantangan, pujian.
Jika sudah berada dalam tal-yap kesimpulan atau penutup, jangan memasukkan ide barn yang akan membuat antiklimaks.
Kalimat kesimpulan sebaiknya dikonsep sesingkat mungkin, untuk menghindari sikap mengambang, seperti pesawat yang berputar-putar tidak mampu mendarat.
Contoh membuat kesimpulan khotbah (1)
Nas Alkitab : Nehemia 1
Tema khotbah : doa yang mengubah keadaan
Kesimpulan
Doa dapat mengubah keadaan, sudah terbukti dalam kesaksian Nehemia. Ia berdoa dengan terbeban atas keadaan bangsanya, disertai sikap merendahkan diri di hadapan Tuhan, dan berusaha menggunakan potensi serta strategi secara maksimal. Pada akhirnya, segala cita-citanya berhasil. Doa kita juga dapat mengubah keadaan.
Contoh membuat kesimpulan khotbah (2)
Nas Alkitab : Yohanes 2:1-11
Tema khotbah : Keluarga yang diberkati Tuhan
Kesimpulan:
Tuhan memiliki perhatian khusus bagi keluarga. Tuhan merindukan adanya pemulihan dalam keluarga. Keluarga kita akan dipulihkan dan diberkati Tuhan, jika kita mengundang Tuhan dalam keluarga kita, jika kita menaati firman-Nya, jika kita menyadari dan menggunakan potensi kita, dan jika kita melangkah dengan iman bahwa kuasa-Nya lebih besar dari segala masalah kita!
Latihan membuat kesimpulan
Pilihlah dua nas, misalnya Lukas 5:1-11 dan Yohanes 2:1-11. Buatlah dari langkah pertama sampai langkah kelima (tema, kalimat peralihan, pokok besar, pokok kecil). Kemudian buatlah kesimpulan.
Langkah VII: Membuat Pendahuluan Khotbah
Pendahuluan adalah cara memperkenalkan apa yang akan dikhotbahkan. Sifat pendahuluan seharusnya: singkat, menarik, memberi minat tuk mendengar, sederhana (seperti iklan, seperti etalase toko, yang membuat orang tertarik).
Sekalipun pendahuluan dalam urutan kerangka khotbah adalah urutan pertama, dalam langkah membuatnya adalah urutan terakhir, sebab pendahuluan menjadi sarana memperkenalkan isi khotbah. Karena isi khotbah harus dibuat lebih dahulu.
Pendahuluan harus singkat, memiliki hubungan langsung dengan tema khotbah atau nas. Dan, memiliki hubungan langsung dengan pendengar. Hindarilah sikap atau kesan kurang siap, tidak percaya diri, kurang simpatik, kurang menguasai bahan. Atau, hindarilah sikap yang berlebih-lebihan dengan banyak janji.
Contoh membuat pendahuluan khotbah (1):
Pendahuluan
Banyak masalah, yang ada di sekitar kita yang tidak mampu kita ubah baik melalui strategi, metode, kemampuan, maupun potensi kita. Bahkan, keberhasilan dan pengalaman masa lalu juga tidak bisa mengubah masalah masa kini, baik itu masalah ekonomi, keamanan, kesehatan, keluarga, dan lain-lain. Apakah ada peluang kita mengubah keadaan? Kita akan belajar dari firman Tuhan dengan tema khotbah: Doa yang Mengubah Keadaan. Bagaimana langkah-langkahnya?
Nas Alkitab : Nehemia 1
Tema khotbah : Doa Yang Mengubah Keadaan
Contoh membuat pendahuluan khotbah (2):
Pendahuluan
Keluarga adalah lembaga Ilahi yang dibentuk oleh Allah. Kepedulian Yesus menghadiri pernikahan di Kana dengan melakukan mukjizat pertama-Nya, memberikan bukti bahwa Allah yang membentuk keluarga juga berkenan memberkati keluarga. Keluarga kita juga akan diberkati oleh Allah. Langkah-langkah apa saja yang perlu kita lakukan agar keluarga kita diberkati?
Nas Alkitab : Yohanes 2:1-11
Tema khotbah : Keluarga Yang Diberkati Tuhan
Latihan membuat pendahuluan khotbah:
Pilihlah dua nas, misalnya Lukas 5:1-11 dan Yohanes 2:1-11. Setelah menyelesaikan langkah pertama sampai langkah keenam (tema, kalimat peralihan, pokok besar, pokok kecil, penutup). Kemudian buatlah pendahuluan khotbah.
Latihan membuat khotbah ekspositori secara lengkap
Buatlah dua kerangka khotbah secara lengkap, satu dari Perjanjian Lama dan satu dari Perjanjian Baru, dengan menerapkan tujuh langkah membuat khotbah ekspositori. Setelah menyelesaikan ketujuh langkah membuat khobtah ekspositori, untuk mempersiapkan teks khotbah, bisa ditulis dalam bentuk garis besar, juga sangat baik ditulis dalam bentuk naskah lengkap siap baca.
Di tulis oleh : Oka Otniel Silak
Bandulan Sekolah Tinggi Alkitab Nusantar
Tanggal/Bln : 14- Januari 2019
Matius 5: 14
Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak
mungkin tersembunyi.
Sejatinya gereja adalah tubuh Kristus, dan umatnya adalah anggota dari gereja itu sendiri. Dalam penjelasan kali ini “Gereja yang sejati adalah hanya satu yaitu Tubuh Kristus, karena itu kami sebagai orang – orang percaya selalu menjadi terang bagi banyak orang, dan di dalam gereja itu sendiri tempat dimana orang – orang percaya berkumpul, yaitu orang – orang yang telah di panggil keluar dari keterikatan dosa. Tugas gereja adalah memberikan pesan Allah kepada Umat-Nya, gereja berdiri di tengah – tengah, sebagai tugas Imam, dan menyampaikan pesan Allah kepada umat tanpa berkompromi kepada dunia. Tugas gereja juga menjadi alatnya TUHAN untuk menyampaikan pesan dari umatnya kepada Allah melalui Doa. Gereja tidak terpengaruh oleh alunan – alunan perkembangan dunia, dan ia berperan secara netral di dalam kehidupan penganut Kristen. Selain tempat perkumulan orang percaya, gereja juga menjadi rumah untuk melakukan tiga tugas yang di konsepkan menjadi Tri tugas gereja yakni, Persekutu, bersaksi dan Pelayanan.
Pada umumnya tugas gereja terdiri dari tiga tugas utama yang sering kali kita kenal yaitu,
Koinonia, (bersekutu) Marturia (bersaksi), dan Diakonia (Melayani).
Penjelasan untuk tiga pilar diatas, masing – masing memiliki makna dan tujuan tersendiri dalam sepanjang sejarah gereja itu sendiri. Karena itu dalam pembahasan kali ini, penulis akan memberikan sedikit penjelasan tugas dan tujuan gereja yang berpusat pada Kristus.
1. Koinonia, (Persekutuan)
Dalam bahasa Yunani, Koinonia adalah arti kata dari ‘Persaudaraan/Persekutuan.’ Yaitu ikut serta dalam persekutuan atau persaudaraan sebagai anak-anak Allah melalui pengantara Kristus dalam kuasa Roh Kudus-Nya. Atau kata lain, gereja menjadi tempat persekutuan komunitas atau kelompok orang – orang percaya kepada Allah dan Yesus Kristus, yang di persatukan atau dikumpulkan menjadi satu dalam tubuh Kristus itu, sebagaimana yang dijelaskan dalam Alkitab, 1Korintus 12:26.
2. Marturya (Kesaksian)
Di ambil dari bahasa Yunani yang artinya Bersaksi. Di dalam Gereja adalah tempat dimana menjadi pusat kesaksian yang memiliki tugas untuk menyampaikan kabar baik bagi mereka yang belum percaya kepada Tuhan, ikut serta dan menjadi saksi Kristus bagi dunia. Selain itu juga, gereja juga harus memberikan fakta dan kebenaran tentang Allah Bapa dan Putra Yesus Kristus sebagai juruselamat, bahkan memberikan kesaksian yang benar setiap orang sebagaimana di jelaskan dalam Ibrani 2:4.
3. Diakonia (Pelayanan)
Penjelasan dalam Bahasa Yunaninya adalah tentang Pelayanan. Dalam konteks Melayani itu sendiri di artikan bahwa gereja di tugaskan untuk hadir di tengah – tengah perkumpulan Masyarakat. Sebagai wujud dari pengabdiannya kepada Allah. Sebagai sarana untuk memenuhi panggilan Allah kepadaNya. Gereja harus menjadi wakil Allah untuk bersinergis dalam aksi kemanusiaan atau persoalan sosial yang sering kali terjadi di sekitar kita. Selain itu juga gereja harus menjadi pelayan di tengah – tengah orang yang dibutuhkan bantuan, melakukan karya cinta kasih melalui kegiatan pemberian amal kristiani, yaitu kepada mereka yang miskin dan lema serta terlantar, memberikan makan kepada orang – orang yang berkekurang, dan juga membawa nilai positif atau harapan saat dimana mereka sedang gelisa dengan situasi untuk hari esok, bahkan lebih spesifik lagi di jelaskan dalam kitab Matius 25:42-44.
Gereja tidak hanya diartikan tempat peribadatan. Tapi gereja juga memiliki arti dan tujuan mendasar sesuai Alkitab.
Kata Church dalam bahasa inggris ada kesinambungan dengan kata kirk yaitu dalam bahasa Jerman kirche, bahasa Portugis Igreja. Dan istilah ini berpusat dari bahasa Yunaninya “kuriakon” bentuk ajektif atau bersifat umum dari asal kata kurios (lord), Tuhan. Istilah church ini juga dapat diterjemahkan dalam bahasa Yunaninya adalah “ekklesia” keluar dari,” kaleo yang berarti, “memanggil” jadi gereja adalah suatu kelompok orang –orang yang di panggil keluar.” Atau juga disebut dengan Jemaaat/umat. Pertama sekali dalam Perjanjian Baru Matius 16:8, Tuhan Yesus memakai kata ekklesia, Ia menggunakan kata ini, supaya murid – murid-Nya selalu ada dekat dengan Dia. Bahkan para murid pun mengenal dengan Dia sebagai Tuhan, dan mereka menerima princip – princip kerajaan Allah. mereka adalah ekklesia dari Mesias yang sejati.
Ekklesia, Inggrisnya “exit” keluar, ekklesia adalah kelompok orang – orang yang di panggil keluar dari suatu tempat, itu artinya mereka yang di panggil keluar dari perbudakaan dosa. Sehingga gereja lokal didirikan dimana – mana maka mereka itu disebut sebagai ekklesia, sebab mereka inilah yang telah dimanifestasikan oleh gereja Kristus yang Universal itu sendiri.
Pada dasarnya ialah gereja selalu memelihara Firman sebagai sumber utama yang hidup dan benar untuk bercahaya di dalam kegelapan. Dengan demikian Gereja juga menjadi terang dunia, Mat 5:14; tidak ada yang lebih berguna dari pada mata hari dan garam, hanya saja yang ini lebih mulia. Semua orang percaya adalah terang di dalam Tuhan, Efesus 5:8; dan harus bercahaya seperti bintang – bintang, Filipi 2:15; namun harus melayani dengan cara yang istimewa. Terutama Kristus menyebut diri terang dunia, Yohanes 8:12; sedangkan murid – muridNya adalah teman – teman sekerja-Nya dan menerima sebagian kehormatan-Nya. Sebagai terang dunai gereja sendiri tampak jelas dan mencolok mata, dan banya mata tertuju pada mereka. Kota yang terletak diatas gunung tidak mungkin tersembunyi. Murid – murid Kristus terutama, mereka yang berani dan bersemangat dalam pelayanan, akan menjadi luar biasa dan dipandang sebagai mercusuar. Mereka pasti menjadi tontonan dunia, semua orang akan berusaha untuk menjadi contoh, dan mengagumi, dan memuji, bersukarya ketika mereka berada di dekat mereka. Mereka sebagai pemberita injil, mereka menjadi tokoh, dan meskipun oleh karenanya mereka di celah sebagian orang, namun mereka juga akan dihormati oleh yang lainnya dan akan di dudukan di atas tahta, dan akan di jadikan hakim, (Lukas 22:30). Sebab Kristus menghormati orang – orang yang dihormati-Nya. Karena itu sebagai hamba – hamba Tuhan jadilah garam dan terang dunia, untuk selalu bercaya bagi banyak orang, hamba – hamba Tuhan harus menjadi panutan bukan menjadi batu candungan bagi jemaatnya. Ada banyak orang yang sering kali keluar dari gerejanya hanya karena sikap pendetanya, atau istrinya. Gereja yang bertugas sebagai hamba Tuhan ia wajib menuruti perintah firman Tuhan, bukan kehendaknya sendiri.
Tuhan Yesus Memberkati kita semua
Jenis2 Anjing di Rumah Penjajah: Anjing pertama yang dilatih adalah anjing rumah (Lap Dog). Ia belajar duduk manis di lantai licin, menji...